Artinya: Dan tidaklah Kami mengutusmu, kecuali sebagai pembawa rahmad bagi seluruh alam. (Q.S. al-Anbiya’/21: 107).
Ahlan wa Sahlan akhi wa ukhti..
Belajar menjadi muslim sejati, Blog orang islam dan yang mau belajar Islam, berisi tentang artikel Islam, semoga bermanfaat dan disini kita saling sharing bareng, Pengunjung yang baik meninggalkan komentar dan join dengan klik "join this site" di bawah ini... Allohu akbar! Terus semangat untuk terus belajar Islam secara kaffah(menyeluruh)...
Gabung di sini dengan klik "join this site"
Daftar Isi
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Home » Posts filed under islam
BER-ISLAM-LAH SECARA KAFFAH
Diposting oleh break_through on Kamis, 11 Oktober 2012
Oleh : Shabarun
Muqaddimah
Artinya: Hai orang-orang yang beriman! masuklah kamu ke
dalam Islam secara keseluruhan; dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan,
karena sesungguhnya la musuh kamu yang nyata (Q.S. al-Baqarah/2: 208),
Ayat tersebut turun sehubungan dengan kedatangan
sekelompok kaum Yahudi antara lain; Abdullah bin Salam, Tsa'labah, lbnu Yamin,
Asad, Usaid bin Ka’ab dan lain-lain menghadap Rasulullah.
Mereka hendak beriman dan meminta agar dibiarkan
merayakan hari Sabtu, dan mengamalkan Taurat pada malam harinya. Kemudian turunlah
ayat tersebut agar orang-orang yang beriman memasuki al-lslam secara kaffah
(keseluruhan), tidak mencampurbaurkan agama dan tidak mengikuti langkah-langkah
setan.
Al-Qur' an telah memberikan basyirah kepada kita bahwa
al-lslam merupakan agama samawi terakhir di alam semesta ini, dan ad-Dien bagi
seluruh pembawa risalah dakwah, sejak dari Nabi Adam as., Nuh as., Musa as., lbrahitn
as.,lsa as., sampai Nabi yang penghabisan, Rasulullah saw.. Karena itu risalah
dakwah yang disampaikan Nabi Muhammad saw. kepada sekalian umat manusia
merupakan mata rantai dari risalah-risalah dakwah yang dibawa nabi-nabi dan rasul
terdahulu.
Seluruh agama samawi ini pada hakekatnya satu; yaitu
menyuruh umat manusia untuk bertauhid hanya kepada Allah semata; dan menghindari
penyembahan manusia atas manusia dan penyelewengan-penyelewengan ke-tuhanan
yang lain. Karena itulah Rasulullah saw. diutus menyampaikan risalah dakwahnya
kepada sekalian umat manusia sebagai rasul pamungkas, sebagaimana firman Allah:
Artinya: Tetapi ia (Muhammad) sebagai utusan Allah dan
penutup sebagai nabi (Q.S. al-Ahzab/33: 40).
Adapun kedudukan Islam terhadap
agama samawi sebelumnya, merupakan penyempurna dari risalah-risalah dakwah yang
dibawa para nabi dan rasul. Baik konsepsi syari’at, muamalah maupun sistem
peribadatan. Sehubungan dengan itu Rasulullah bersabda:
Artinya: Perumpamaanku dan
perumpamaan nabi-nabi sebelumku ibarat orang yang membangun sebuah rumah. Ia
memperindah dan mempercantik rumah itu, kecuali letak batu-batu dari satu sisi
bangunan dari beberapa sisi lainnya. Kemudiaan manusia mengelilingi rumah dan
mengaguminya dan berkata, langkah indahnya bangunan ini; dan aku adalah
bangunan itu. Aku adalah penutup para nabi. (HR. Bukhaari dan Muslim).
Dengan kelengkapan dan kesempurnaan
(syamil) ajaran inilah, menjadikan seluruh umat manusia harus memerlukan
al-Islam sebagai pandangan hidupnya, dan pembimbing kehidupan mereka untuk
mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam hal ini Allah berfirman:
Artinya: Dan aku )Muhammaad) tidak
diutus kecuali untuk seluruh manusia sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi
peringatan. (QS. As-Saba’/34: 28).
Pada ayat lain disebutkan:
Artinya: Dan tidaklah Kami mengutusmu, kecuali sebagai pembawa rahmad bagi seluruh alam. (Q.S. al-Anbiya’/21: 107).
Menuju Totalitas Islam
Apakah Islam itu? Bagaimanakah
fondasi al-Islam itu tersusun, merupakan pertanyaan mendasar menyangkut risalah
samawi terakhir ini.
Dalam suatu hadits yang diriwayatkan
Ibnu Umar, Rasulullah bersabda:
Artinya: Sesungguhnya Islam itu
dibangun atas lima dasar: bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Allah
dan Muhammad itu hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat menunaikan zakat, haji
ke Baitullah dan puasa di bulan Ramadhan.
Dalam hadits tersebut dapatlah
disimpulkan bahwa Islam dibangun di atas lima dasar yaitu: syahadah; shalat;
zakat; puasa Ramadhan dan haji. Kelima dasar inilah yang merupakan inti al-lslam;
namun demikian tidak/belum dapat dikatakan sebagai totalitas Islam.
lbarat orang berkata; "Rumah
ini dibangun dengan lima tiang". Maka jika orang lain memahami bahwa lima
tiang itu, bangunan keseluruhan rumah, menandai pemahaman yang belum tepat.
Karena di atas tiang itu ada atap, genting, jendela, pintu-pintu dan komponen-komponen
yang memadai sebuah bangunan rumah.
Begitu pula al-lslam. Orang akan
keliru besar jika memahami al-Islam secara keseluruhan hanya sebatas kelima
dasar tersebut. Atau dengan kata lain, pemahaman yang masih juz'iyah
(sepotong-sepotong). Karena di atas kelima pondasi al-lslam tersebut tersusun
bangunan al-lslam yang menjanjikan kepada umat manusia kebahagiaan hidup dunia
dan akhirat. Karena dalam al-lslam terdapat masalah-masalah yang menyangkut
moral, etika, ekonomi, sosial, perang, damai, politik dan permasalahan lain
yang menyangkut falsafah hidup manusia. Selain itu Islam juga mengatur hubungan
yang paling asasi, yaitu hubungan manusia dengan ar-Rabb, sesama manusia maupun
alam sekitarnya. Disitulah Islam memberikan solusi yang tepat dan benar bagi
semua problema kehidupan manusia dari kurun waktu ke kurun waktu, generasi ke
generasi sepanjang masa.
Sebagai misal, dalam kitab-kitab fiqh
terkandung pembahasan mengenai ibadah, mu'amalah, peradilan, jihad, hukum-hukum
perkawinan dan lain-lain. Di samping di sisi lain, Islam juga membahas masalah-masalah
politik, sosial, kemasyarakatan dan lain-lain. Ringkasnya, tidak ada satu sisi
kehidupan pun dari kehidupan manusia yang luput dari hukum Islam.
Dengan demikian, lima rukun tersebut merupakan lima dasar
Islam yang di atasnya dibangun seluruh struktur bangunan Islam, yang keseluruhannya
merupakan totalitas Islam. Allah berfirman:
Artinya: Dan Kami turunkan kitab kepadamu sebagai
penjelas segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat, dan kabar gembira
bagi muslimin. (Q.S. an-Nahl/16: 89)
Penutup
Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa al-lslam
terdiri atas Aqidah, yang tercermin dalam syahadah dan rukun iman; lbadah yang
tercermin dengan shalat, zakat, puasa dan haji; dan sistem yang ditegakkan di
atas rukun-rukun tersebut yang tercermin-dalam sistem Islam yang meliputi
sistem sosial, ekonomi, nilai-nilai moral, budaya maupun estetika, dan
lain-lain.
Pemahaman dan pengetrapan al-Islam secara juz'iyah akan
mengakibatkan kefatalan bagi dirinya sendiri maupun masyarakat. Karena selain
bersifat syamil, Islam juga bersifat universal. Artinya Islam tidak terikat
dengan teritorial suatu bangsa, ras maupun warna kulit. Islam yang dipahami orang
Arab, Eropa, maupun Amerika tidak berbeda dengan Islam yang dipahami orang
Indonesia.
Karena itulah al-Qur'an menyuruh kita, sekalian umat
Islam untuk menerima al-lslam secara kaffah. Kalau begitu sudah sejauh manakah
kekaffahan kita dalam ber-lslam?
Selain itu Allah membebani umat manusia agar Islam ditegakkan
di muka bumi ini. Mengeluarkan umat manusia dari alam kejahiliyahan kepada
cahaya al-lslam, "minadlulumati ilan-nur". Yaitu menyembah hanya
kepada Allah semata dan menghindari/menjauhi penyembahan kepada thaghut.
Firman Allah:
Artinya: Adalah kamu sebaik-baik umat yang diadakan untuk
manusia; kamu menyuruh berbuat kebaikan, dan kamu melarang kejahatan; dan kamu
beriman kepada Allah (Q.S.al-lmran/3: 110).
Sumber:
Suara
Muhammadiyah
Edisi
16 2004
Label:
islam
5 Game Terkenal yang Telah Menghina Islam
Diposting oleh break_through on Sabtu, 06 Oktober 2012
Game adalah salah
satu hiburan yang sangat digemari orang, apalagi olehremaja dan anak-anak. Tapi
tanpa kita sadari lewat permainan gametersebut. Kita telah di jajah dalam hal
waktu yang bisa membuat kitalupa sholat, dijajah dalam hal keimanan melalui
game.
Para pembuat game secara tidak langsung
menghipnotis kita agar kitatertarik dengan apa yang kita mainkan, dan
lama-kelamaan kita menggilainya. Bahkan merasa bahwa apa yang dimainkan tersebut
adalah nyata.
Berikut ini ada beberapa game yang mungkin
secara sengaja atau tidak telah menghina islam. Saya sangat prihatin dengan
game-game keren ini, yang disukai terutama oleh remaja dan anak-anak.
1. Devil May Cry 3
Secara garis besar, game ini menceritakan seseorang
yang bertugas untuk menentang setan, dan caranya adalah dengan memasuki sarang
setan yang terdiri dari 12 pintu. Dan mari kita lihat unsur penghinaanya.
Anda bisa melihat pintu tersebut adalah
jalan menuju alam setan. Pertama kali melihat pintunya, pasti kita merasa biasa
saja, memang sekilas tidak ada yang aneh. Namun setelah dibandingkan dengan
gambar yang berikut ini:
Apakah Anda tahu? Gambar di atas adalah
Pintu Ka’bah. Nah, pintu pada game tadi dibuat persis menyerupai pintu Ka’bah.
Maksudnya apa? Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan maksud menghina umat
Islam, karena tanpa disadari kita telah menyembah sarang setan (Ka’bah). Mari
kita telusuri lagi.
Gambar yang dilingkari tersebut adalah
lafadz Allah. Bagaimana menurut Anda?
2. Clive Barker Undying
Game ini juga mengisahkan perlawanan
terhadap setan, dan letak penghinaanya adalah di saat memasuki istana setan.
Terdapat lafadz Allah di dindingnya seperti gambar berikut:
3. Prince of Persia
Game yang berlatar tempat di Persia atau
sekarang yang merupakan kawasanIran, Irak, Mesir ini secara keseluruhan memang
bertemakan Islam.
Seorang pangeran yang ceritanya membalas
dendam ini memang dengan kasat-mata tidak ada unsur penghinaanya terhadap Islam.
Tapi setelah diselidiki.. unsur penghinaanya adalah sebagai berikut:
Anda bisa lihat pedangnya pangeran Dastan
yang bertuliskan Arab yang artinya, “Sebarkanlah ajaranku walau satu ayat pun.”
(Sabda RasulullahSAW).
Lantas dimana unsur penghinaanya? Di dalam
game ini pangeran membunuh siapa saja yang menghalanginya dan membunuh
prajurit-prajurit Persia.
Tahukah Anda bahwa prajurit Persia adalah
muslim. Secara tidak langsung game ini mengatakan bahwa ajaran Rasullulah yang
disebarkan adalah ajaran membunuh dan mengatakan bahwa umat Islam adalah kaum
barbar.
4. Guitar Hero 3
Langsung saja, mari lihat gambar berikut
ini:
Dengan jelas terpampang di lantai panggung
dan di injak-injak dan coba lihat latar belakang panggung yang merupakan setan
semua.
5. Resident Evil 4
Game ini diceritakan seorang yang bertugas
mengemban misi menyelamatkan dunia dari ancaman zombie (mayat hidup). Unsur
penghinaanya sebenarnya sudah ada sejak pertama kali main, tapi yang sangat
jelas pada saat Leon memasuki sarang Zombie.
Pintu tersebut terdapat simbol Iluminati
dan pintu tersebut dibuat persis dengan pintu Omar Bin Khattab, Masjid Nabawi.
Mari kita lihat:
Lambang Asli Iluminati pada pintu tersebut:
Di bawah ini adalah pintu Umar Bin Khattab:
Gabungan dan Unsur penghinaannya adalah :
Gambar kaligrafi dari pintu Omar bin
Khattab dibuat sama persis tanpa diubah. Tulisan Kaligrafi yang Berlafadz Nabi
Muhammad dan ditindih dengan lambang iluminati. Jadi maksud dari penghinaan ini
adalah kita semua umat islam pengikut nabi Muhammad SAW di gambarkan ibarat
zombie yang wajib di musnahkan dari muka bumi.
Itu tadi penelusuran tentang Game yang
Menghina Islam. Mari kita musnahkan game tersebut dengan cara tidak
memainkannya. Saya harap setelah Anda membaca artikel ini. Anda memberitahukan
kepada teman-teman yang lain yang mungkin belum tahu.
Sebenarnya hampir semua game dan bahkan film
kartun memiliki unsur yang sedikit menyinggung Islam dan ada unsur satanicnya.
Saran dari saya,marilah kita menggunakan waktu dengan hal yang lebih berguna
dan jangan berlebihan.
Label:
islam
USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN
Diposting oleh break_through
Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah radliyallahu'anhuma tentang madzhab Ahlus Sunnah dalam masalah ushuluddin (pokok–pokok agama) juga tentang pemahaman para ulama di berbagai kota yang mereka ketahui, serta apa saja yang mereka berdua yakini. Maka, keduanya berkata : Kami telah berjumpa dengan para ulama di seluruh kota baik di Hijaz, Iraq, Mesir, Syam maupun Yaman, maka diantara madzhab yang mereka anut adalah :
1. Iman itu berupa perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.
2. Al–Qur’an adalah kalam Allah dan bukan makhluk, dalam segala aspeknya.
3. Takdir yang baik maupun yang buruk adalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala
4. Di kalangan ummat ini, sebaik–baik orang setelah Nabi adalah Abu Bakar Ash–Shiddiq, kemudian ‘Umar bin Al–Khattab, lalu ‘Utsman, lalu ‘Ali bin Abu Thalib radliyallahu 'anhum. Mereka Khulafaur Rasyidun Al–Mahdiyun para khalifah yang berpegang teguh kepada agama dan mengikuti kebenaran.
5. Bahwa sepuluh sahabat yang disebut dan dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk jannah, mereka itu sesuai dengan pernyataan beliau dan perkataan beliau itu benar.
6. Memintakan kasih sayang8 bagi seluruh sahabat serta keluarga Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, serta menahan untuk membicarakan perselisihan yang terjadi diantara mereka.
7. Bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari seluruh makhluk-Nya, sebagaimana sifat yang diberitahukan-Nya dalam kitab-Nya melalui lisan Rasul-Nya, tanpa diketahui kaif (bagaimana)nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
8. Allah Tabaraka wa Ta’ala akan dapat dilihat di akhirat. Segenap penduduk jannah akan melihat-Nya dengan mata kepala mereka. Allah berbicara, sebagaimana dia berkehendak.
9. Jannah (syurga) adalah benar dan naar (neraka) adalah benar (adanya). Keduanya adalah makhluk yang kekal abadi. Jannah adalah balasan bagi para wali-Nya, sedangkan neraka adalah hukuman bagi orang–orang yang bermaksiat kepada-Nya, kecuali yang mendapatkan rahmat-Nya.
10. Shirath adalah benar (adanya)
11. Mizan (timbangan) yang memiliki dua sisi timbangan untuk menimbang amalan para hamba, yang baik maupun yang buruk adalah benar (adanya)
12. Haudh (telaga) yang dijadikan sebagai penghormatan bagi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan segenap keluarganya, adalah benar (adanya)
13. Syafa’at adalah benar (adanya). Dan bahwa sebagian ahli tauhid keluar dari neraka lantaran adanya syafa’at, adalah benar
14. Adzab kubur adalah benar (adanya)
15. Munkar dan Nakir adalah benar (adanya)
16. Malaikat mulia yang mencatat amal perbuatan menusia adalah benar (adanya)
17. Kebangkitan setelah mati adalah benar (adanya)
18. Para pelaku dosa besar berada dalam masyi’ah (kehendak) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita tidak mengkafirkan ahli kiblah disebabkan dosa mereka. Kita menyerahkan urusan batin mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
19. Kita melaksanakan kewajiban jihad dan haji bersama imam–imam kaum muslimin, disetiap masa.
20. Kita tidak boleh melakukan pembelotan terhadap para imam atau peperangan di masa fitnah.
21. Kita mendengar dan menta’ati siapa saja yang dijadikan Allah sebagai pemimpin kita. Kita tidak akan melepaskan diri dari ketaatan.
22. Kita mengikuti sunnah dan jama’ah serta menghindari sikap menyimpang (nyleneh), perselisihan dan perpecahan.
23. Jihad berlaku semenjak Allah mengutus Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam hingga terjadinya hari kiamat, bersama imam–imam kaum muslimin, tanpa ada sesuatupun yang menghapuskannya.
24. Demikian pula haji.
25. Begitu pula pembayaran zakat saimah20 kepada imam kaum muslimin yang menjadi pemimpin bagi kita.
26. Pada aslinya manusia secara umum digolongkan mukmin berdasarkan hukum–hukum dan pewarisan, adapun hakekat keimanan mereka disisi Allah tidak diketahui. Barangsiapa yang berkata bahwa ia seorang mu’min sejati, maka ia adalah orang yang berbuat bid’ah. Barangsiapa yang berkata bahwa ia adalah orang yang mu’min disisi Allah, maka ia termasuk pendusta, sedangkan orang yang mengatakan, “Saya beriman kepada Allah” maka yang dilakukannya adalah benar
27. Kaum Murji’ah adalah kaum yang berbuat bid’ah dan tersesat.
28. Kaum Qadariah adalah kaum yang berbuat bid’ah dan tersesat. Barangsiapa diantara mereka yang menyatakan bahwa Allah Ta’ala tidak mengetahui apa yang akan terjadi sebelum terjadinya, maka ia kafir.
29. Kaum Jahmiyah adalah kafir
30. Kaum Rafidhah adalah kaum yang menolak Islam.
31. Kaum Khawarij adalah kaum yang meluncur keluar dari agama.
32. Barangsiapa menyatakan bahwa Al–Qur’an itu makhluk, maka ia orang yang kafir kepada Allah Yang Maha Agung, dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari millah. Barangsiapa yang faham tetapi meragukan kekafirannya, maka ia kafir.
33. Barangsiapa yang ragu terhadap Kalam Allah Ta’ala (Al–Qur’an), bimbang mengenainya dan mengatakan, “Saya tidak tahu apakah makhluk atau bukan makhluk” maka ia orang yang berfaham jahmiyah.
34. Orang yang bimbang mengenai Al–Qur’an dikarenakan kebodohan, maka harus diajarin dibid’ahkan, tetapi tidak dikafirkan.
35. Barangsiapa yang mengatakan “Bacaan Al–Qur’an-ku adalah makhluk” atau “Al–Qur’an dengan bacaanku adalah makhluk” maka ia adalah orang yang berpaham jahmiyah.
36. Tanda–tanda ahli bid’ah adalah mengumpat ahlul ‘atsar (orang – orang yang berpegang
teguh dengan sunnah-pent)
37. Tanda–tanda orang zindiq adalah mereka menyebut ahlul ‘atsar sebagai orang hasywiyah, karena ingin menghapuskan sunnah.
38. Tanda–tanda kaum jahmiyah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum musyabbihah.
39. Tanda–tanda kaum qadariyah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum yang
berpaham jabriyah.
40. Tanda–tanda kaum murji’ah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum mukhalifah (yang suka mempertentangkan) atau nuqshaniyah (yang suka mengurangi.
41. Tanda–tanda kaum rafidhah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum tsaniyah.
42. Dalam perkara ini telah tersesat banyak kelompok (dalam memahami ahlus sunnah), padahal ahlus sunnah hanya menyandang satu nama dan nama – nama ini semua tidak mungkin menyatu (ada) pada mereka.
43. Abu Muhammad bercerita kepada kami, katanya: Dan saya mendengar ayahku dan Abu Zur’ah mengisolasi orang yang memiliki pemahaman yang menyimpang dan melakukan bid’ah, menyalahkan pendapat mereka dengan keras, menolak penulisan buku–buku dengan pendapat tanpa berdasarkan atsar, melarang berteman dengan ahli kalam atau membaca buku–buku kaum mutakallimin, serta berkata “Penganut ilmu kalam tidak akan beruntung selamanya.”
Telah saya sampaikan semuanya, dan segala puji bagi Allah Rabb semua alam,
semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad
shallallahu 'alaihi wa sallam dan para keluarganya. Akhir kitab I’tiqaduddin.
Label:
islam
Dasar-dasar Memahami Tauhid
Diposting oleh break_through
Oleh : Syaikh Muhammad At-Tamimi
Ketahuilah, bahwa sesunguhnya kelurusan ajaran Nabi Ibrahim 'alaihis salam adalah beribadah kepada Allah secara ikhlas dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya. Allah berfirman [artinya]: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzariyaat1:56)
Dan bila Anda telah tahu bahwasanya Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidak disebut ibadah kecuali bila disertai dengan tauhid. Sebagaimana shalat, tidaklah disebut shalat bila tidak disertai dengan bersuci. Bila ibadah dicampuri syirik, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana rusaknya shalat bila disertai adanya hadatz (tidak suci). Allah berfirman [artinya]:" Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka itu kekal di dalam neraka" (At-Taubah: 17)
Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa ibadah yang bercampur dengan kesyirikan akan merusak ibadah itu sendiri. Dan ibadah yang bercampur dengan syirik itu akan menggugurkan amal sehingga pelakunya menjadi penghuni neraka, Allah berfirman [artinya]: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (An-Nisaa': 48) Kemurnian ibadah akan mampu dicapai bila memahami 4 kaidah yang telah Allah nyatakan dalam firman-Nya.
Kaidah Pertama
Engkau harus mengetahui bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka meyakini bahwa Allah sebagai Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan, Yang mematikan, Yang memberi manfa'at, Yang memberi madzarat, Yang mengatur segala urusan (tauhid rububiyah). Tetapi semuanya itu tidak menyebabkan mereka sebagai muslim, Allah berfirman:
"Katakanlah: 'Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab:'Allah'. Maka katakanlah:'Mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]." (Yunus:31)
Kaidah Kedua
Mereka (musyrikin) berkata :"Kami tidak berdo'a kepada mereka (Nabi, orang-orang shalih dll) kecuali agar bisa mendekatkan kepada Allah dan mereka nantinya akan memberi syafa'at. Maksud kami kepada Allah, bukan kepada mereka. Namun hal tersebut dilakukan dengan cara melalui syafaat dan mendekatkan diri kepada mereka".
Dalil tentang mendekatkan diri yaitu firman Allah [artinya]:"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar" ( Az-Zumar: 3)
Adapun dalil tentang syafa'at yaitu firman Allah [artinya]:"Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa'atan, dan mereka berkata:"Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah:"Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak [pula] di bumi" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan [itu]." (Yuunus: 18)
Syafa'at itu ada 2 macam:
• Syafa'at mutsbitah (yang diterima)
Syafa'at munfiyah adalah syafa'at yang dicari dari selain Allah. Sebab tidak seorangpun yang berkuasa dan berhak untuk memberikannya kecuali Allah, Allah berfirman [artinya]:"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah [di jalan Allah] sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah: 254)
Adapun syafa'at mutsbitah adalah syafa'at yang dicari dari Allah. Pemberi syafa'at itu dimuliakan dengan syafa'at, sedangkan yang diberi hak untuk memberikan syafa'at adalah orang yang diridhai Allah, baik ucapan maupun perbuatannya setelah memperoleh izin-Nya. Allah berfirman [artinya]:"Siapakah yang mampu memberi syafa'at disamping Allah tanpa izin-Nya?" (Al-Baqarah:255)
Kaidah Ketiga
Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menerangkan kapada manusia tentang macam-macam sistem peribadatan yang dilakukan oleh manusia. Diantara mereka ada yang menyembah matahari dan bulan, diantara mereka ada pula yang menyembah orangorang shaleh, para malaikat, para wali, pepohonan, dan bebatuan.
Mereka semua diperangi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dalilnya adalah firman Allah [artinya]:"Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan dien ini menjadi milik Allah semuanya."(Al-Baqarah:193)
Sedangkan dalil larangan beribadah kepada matahari dan bulan adalah firman Allah [artinya]: "Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah."(Fushilat:37)
Dan dalil larangan beribadah kepada orang-orang shaleh adalah: "Katakanlah:'Panggillah mereka yang kamu anggap selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya'. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat [kepada Allah] dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah sesuatu yang [harus] ditakuti. (Al-Ishra:56-57)
Adapun dalil tentang larangan beribadah kepada para malaikat adalah: "Dan [ingatlah] hari [yang di waktu itu] Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat:"Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?" Malaikat-malaikat itu menjawab:"Maha Suci Engkau.Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu".Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa [untuk memberikan] kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebahagian yang lain.Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim:"Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu". (Sabaa': 40-42)
Larangan beribadah kepada para Nabi dalilnya:"Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman:"Hai 'Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:"Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah". 'Isa menjawab:"Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu.
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib"Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku [mengatakannya] yaitu:"Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Meyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Maidah:116-118)
Adapun dalil tentang larangan penyembahan terhadap pepohonan, bebatuan adalah hadits Abi Waqid Al-Laitsi, dia berkata: " Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menuju Hunain. Kami adalah para pemuda yang telah mengenal bentuk-bentuk kesyirikan. Orang-orang musyrik mempunyai tempat duduk untuk beristirahat dan menggantungkan senjata. Tempat itu dikenal sebagai Dzatu Anwath. Lalu kami melalui pohon bidara dan [sebagian] kami mengatakan: "Wahai Rasulullah, buatlah bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka (musyrikin) miliki. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allahu Akbar, itu adalah assunnan (jalan), kamu kamu telah mengatakan -demi dzat yang menguasai diriku-sebagaimana yang telah dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa, "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)". Musa menjawab:"Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang bodoh". Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. Musa menjawab:"Patutkah aku mencari Ilah untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah
melebihkan kamu atas segala umat." (Al-A'raf:138-140)
Kaidah Keempat
Sesungguhnya kaum musyrik zaman kita labih parah kesyirikannya dibanding musyrikin zaman dahulu, sebab musyrikin zaman dahulu, mereka berdo'a secara ikhlas kepada Allah ketika mereka ditimpa bahaya, akan tetapi mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan senang. Sedangkan orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka terus menerus melakukan perbuatan syirik, baik dalam bahaya maupun ketika sedang senang, hal ini sebagaimana diterangkan Allah dalam Al-Qur'an: "Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo'a kepada Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah], agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang [dalam kekafiran]. Kelak mereka akan mengetahui [akibat perbuatannya]." (Al-Ankabut: 65-66)
Label:
islam
Beristighfar...
Diposting oleh break_through on Selasa, 02 Oktober 2012
Saudaraku...
Apa yang menghalangi kita untuk meraih beratus-ratus, beribu-ribu dan berjuta-juta pahala setiap hari?
Apa yang menghalangi kita untuk meraih beratus-ratus, beribu-ribu dan berjuta-juta pahala setiap hari?
Mengapa kita tak membuka kran-kran pahala yang mengalir deras setiap hari? Kenapa kita tidak membuka pintu-pintu kebaikan yang terpajang di depan kita?
Salah satu pelung kebaikan dan pahala yang terhampar di depan kita adalah beristighfar untuk orang-orang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan.
Namun lisan kita terasa kelu dan lidah terasa kaku untuk melakukan hal itu, jika hati kita dipenuhi noktah hitam dan jiwa kita telah gelap lantaran dosa dan maksiat.
Itulah bencana besar yang telah menjadikan dunia kita kelabu. Jika ini sudah terjadi jangankan kita mendo’akan ampunan bagi orang lain, beristighfar untuk diri kita yang berlumuran dosapun terasa berat untuk kita perbuat.
Padahal Rasulullah saw pernah bersabda:
مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً
“Barangsiapa yang memintakan ampunan (kepada Allah) bagi kaum mukminin dan mukminat, maka Allah akan menulis bagi setiap mukmin dan mukminah satu kebaikan (pahala).” Dihasankan oleh syekh Al Bani dalam shahih al jami’.
Selanjutnya terserah kita saudaraku..
Berapakah pahala dan kebaikan yang ingin kita raih setiap harinya dari pintu ini. Semakin banyak pundi-pundi kebaikan dan asset pahala yang ingin kita kumpulkan, maka semakin banyak pula kita mendo’akan ampunan bagi orang-orang mukmin baik laki-laki maupun perempuan. Baik yang sudah kita kenal ataupun yang belum kita kenal.
Berapakah pahala dan kebaikan yang ingin kita raih setiap harinya dari pintu ini. Semakin banyak pundi-pundi kebaikan dan asset pahala yang ingin kita kumpulkan, maka semakin banyak pula kita mendo’akan ampunan bagi orang-orang mukmin baik laki-laki maupun perempuan. Baik yang sudah kita kenal ataupun yang belum kita kenal.
Sungguh merugi, jika kita telah berada di depan pintu kebaikan ini, tapi kita tak mau mengetuk dan membukanya.
Dan sudah barang tentu, jika kita beristighfar untuk orang lain. Jangan lupa kita beristighfar untuk diri kita sendiri.
Mari kita memperbanyak istighfar untuk diri kita dan bagi orang lain. Mudah-mudahan keberkahan hidup kita kecap dan rahmat serta ampunan-Nya dapat kita dekap. Wallahu a’lam bishawab.
Riyadh, 17 September 2012 M
Sumber:Status Ustadz Abu Ja’far
Label:
islam
MEMBUKA PELUANG KEBAIKAN
Diposting oleh break_through
“Salah satu investasi yang dijamin tidak pernah merugi adalah investasi kebaikan. Semakin besar investasi kebaikan yang kita tanamkan, semakin besar kebaikan yang kembali kita dapatkan dari kehidupan.” – Eko Jalu Santoso, Motivasi Indonesia –
Sahabat Motivasi Indonesia, Kita perlu menyadari bahwa setiap kebaikan yang kita berikan bagi sesama kehidupan sesungguhnya adalah saham atau investasi yang akan memberikan keuntungan bagi kehidupan kita baik sekarang maupun yang akan datang. Tak ada satu kebaikan pun yang dilepaskan menjadi sia-sia. Mungkin saja kebaikan yang kita lakukan seolah-olah nampak sia-sia bagi pandangan orang lain, tapi yakinlah bahwa itu tidak sia-sia bagi Allah. Bahkan hal ini secara tegas dijamin oleh Allah sebagaimana telah disampaikan dalam kitab suci-Nya bahwa Tuhan akan menggandakan berlipat-lipat, kepada setiap manusia yang melepaskan kebaikan dengan ikhlas.
Sayangnya meskipun sudah nampak nyata bukti-bukti yang diberikan kehidupan kepada mereka yang banyak melakukan kebaikan, masih saja banyak orang senang menundanunda untuk melakukan kebaikan. Mengapa demikian ? Hal ini disebabkan oleh banyaknya godaan, baik dari internal dalam diri kita sendiri, maupun dari eksternal (lingkungan). Godaan ini kerap sekali membuat orang yang hendak berbuat baik terhalang, suka menunda-nunda, hingga akhirnya tidak sempat berbuat baik. Padahal menunda kebaikan berarti membuang waktu, usia, kesempatan mulia yang telah diberikan Allah SWT.
Sahabat, dimanakah kita dapat menemukan peluang kebaikan itu ? Dimanakah pintupintu kebaikan itu ? Pintu-pintu untuk meraih kebaikan itu sesungguhnya sangat banyak dan tersebar dalam berbagai aspek kehidupan. Bahkan mulai dari yang sangat sederhana sampai dengan yang lebih tinggi nilainya terbuka lebar bagi siapa saja yang bersedia menjemputnya, diantaranya adalah :
1. Bersedia memikirkan tentang kepentingan orang lain, bukan hanya memikirkan kepentingan sendiri
2. Bersedia memberi perhatian kepada orang lain, bukan hanya minta diperhatikan
3. Memberikan senyuman dan menyapa orang lain dengan ramah dan ikhlas
4. Bertutur kata yang baik dan sopan dengan orang lain
5. Mengingatkan orang lain untuk melakukan hal-hal yang benar
6. Menjadikan orang lain merasa penting dan dibutuhkan
7. Berbagai semangat dan motivasi kepada orang yang sedang mengalami kegagalan
8. Memberikan pertolongan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan
9. Memiliki keikhlasan hati membantu orang yang memerlukan bantuan
Dan lain sebagainya
Semua hal-hal sederhana itu termasuk pintu-pintu kebaikan. Pintu-pintu kebaikan seperti ini kalau kita lakukan dengan keikhlasan merupakan sebuah potensi investasi yang pasti akan dikembalikan kepada kita. Hal itu semua merupakan potensi untuk menjaga kejernihan suara hati, sehingga cahayanya dapat memancar dalam kehidupan.
Bagaimana agar kita dapat selalu menjaga semangat untuk selalu bersedia berbagai energi kebaikan dengan sesama kehidupan ? Bagaimana agar dapat menggali sumbersumber kebaikan dan memancarkan energi kebaikan bagi kesuksesan dan kemuliaan hidup ? Bagaimana agar kita dapat mengalahkan berbagai godaan yang menjadi penghambat dalam melakukan kebaikan ?
Sederhananya, disini ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan:
1. Hadapkanlah wajah kepada Allah di manapun kita berada. Dengan merasa bahwa Allah selalu mengawasi kita, maka akan tumbuh Kesadaran untuk melakukan kebaikan karena Allah semata.
2. Dengarkan suara hati terdalam dalam setiap langkah kehidupan, sehingga setiap keputusan yang kita ambil adalah berdasarklan suara hati yang senantiasa mendorong kearah mulia.
3. Kalau kita merasa telah melakukan perbuatan kurang baik, maka berusahalah segera melakukan 4. perbuatan baik yang lebih banyak lagi kepada sesame kehidupan
5. Mengalahkan ego pribadi dengan mau memikirkan kebutuhan dan kepentingan orang lain
6. Membina hubungan yang baik dengan orang-orang yang memiliki semangat positif dan memiliki 7. kemuliaan akhlak.
8. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran dengan sesama.
Sahabat, ingatlah bahwa orang yang pertama merasakan manfaat dari berbuat kebaikan adalah mereka sendiri yang telah melakukannya. Mereka yang telah melakukan tindakantindakan positif dan kebaikan bagi sesama akan merasakan “buah”nya seketika itu dalam jiwa, akhlak, dan hati nuraninya. Sehingga hatinya akan terjaga kejernihannya. Hidup akan terasa lebih mudah, tenang, tenteram dan damai di hati. SEMOGA BERMANFAAT.
Oleh Eko Jalu Santoso
Eko Jalu Santoso adalah Founder Motivasi Indonesia, Penulis Buku “The Art of Life
Revolution” dan buku “Heart Revolution, Revolusi Hati Nurani” yang diterbitkan Elex
Media Komputindo.
TIGA LANDASAN UTAMA Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
Diposting oleh break_through on Minggu, 19 Agustus 2012
Muqaddimah
Akhi (Saudaraku).
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada anda.
Ketahuilah, bahwa wajib bagi kita untuk mendalami empat
masalah, yaitu :
1. Ilmu, ialah
mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam berdasarkan
dalil-dalil.
2. Amal, ialah
menerapkan ilmu ini.
3. Da'wah,
ialah mengajak orang lain kepada ilmu ini.
4. Sabar, ialah
tabah dan tangguh menghadapi segala rintangan dalam menuntut ilmu,
mengamalkannya dan berda'wah kepadanya.
Dalilnya, firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia
benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, melakukan
segala amal shalih dan saling nasihat-menasihati untuk (menegakkan) yang haq,
serta nasehat-menasehati untuk (berlaku) sabar".(Al-'Ashr : 1-3).
Imam Asy-Syafi'i1
Rahimahullah Ta'ala, mengatakan :"Seandainya Allah hanya menurunkan surah
ini saja sebagai hujjah buat makhluk-Nya, tanpa hujjah lain, sungguh telah
cukup surah ini sebagai hujjah bagi mereka".
Dan Imam Al-Bukhari2
Rahimahullah Ta'ala, mengatakan :"Bab Ilmu didahulukan sebelum ucapan dan
perbuatan".
Dalilnya firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Maka ketahuilah, sesungguhnya tiada
sesembahan (yang haq) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu".
(Muhammad : 19).
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan terlebih dahulu untuk
berilmu (berpengetahuan) .... .." 3
sebelum ucapan dan perbuatan.
Akhi (Saudaraku).
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada anda.
Dan ketahuilah, bahwa wajib bagi setiap muslim dan muslimah
untuk mempelajari dan mengamalkan ketiga perkara ini :
1. Bahwa
Allah-lah yang menciptakan kita dan yang memberi rizki kepada kita. Allah tidak
membiarkan kita begitu saja dalam kebingungan, tetapi mengutus kepada kita
seorang rasul, maka barangsiapa mentaati rasul tersebut pasti akan masuk surga
dan barangsiapa menyalahinya pasti akan masuk neraka. Allah Ta'ala berfirman
:"Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu seorang rasul yang menjadi saksi
terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus kepada Fir'aun seorang rasul,
tetapi Fir'aun mendurhakai rasul itu, maka Kami siksa ia dengan siksaan yang
berat". (Al-Muzammil : 15-16).
2. Bahwa
Allah tidak rela, jika dalam ibadah yang ditujukan kepada-Nya, Dia dipersekutukan
dengan sesuatu apapun, baik dengan seorang malaikat yang terdekat atau dengan
seorang nabi yang diutus manjadi rasul. Allah Ta'ala berfirman :"Dan
sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah
kamu menyembah seorang-pun di dalamnya disamping (menyembah) Allah".
(Al-Jinn : 18).
3. Bahwa
barangsiapa yang mentaati Rasulullah serta mentauhidkan Allah, tidak boleh
bersahabat dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun
mereka itu keluarga dekat. Allah Ta'ala berfirman :"Kamu tidak akan
mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling
berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun
orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga
mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah mantapkan keimanan dalam
hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya dan
mereka akan dimasukkan-Nya ke dalam surga-surga yang mengalir dibawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka
pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung".
(Al-Mujaadalah : 22).
Akhi (Saudaraku).
Semoga Allah mebimbing anda untuk taat kepada-Nya.
Ketahuilah, bahwa Islam yang merupakan tuntunan Nabi Ibrahim
adalah ibadah kepada Allah semata dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Itulah
yang diperintahkan Allah kepada seluruh umat manusia dan hanya itu sebenarnya
mereka diciptakan-Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
"Artinya : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia,
melainkan untuk beribadah kepada-Ku". (Adz-Dzaariyaat : 56).
Ibadah dalam ayat ini, artinya : Tauhid. Dan perintah Allah
yang paling agung adalah Tauhid, yaitu : Memurnikan ibadah untuk Allah
semata-mata. Sedang larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu :
Menyembah selain Allah di samping menyembah-Nya. Allah Ta'ala berfirman :
"Artinya : Sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya". (An-Nisaa : 36).
Kemudian, apabila anda ditanya : Apakah tiga landasan utama
yang wajib diketahui oleh manusia ? Maka hendaklah anda jawab : Yaitu mengenal
Tuhan Allah 'Azza wa Jalla, mengenal agama Islam, dan mengenal Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Fote Note.
1. Abu
Abdillah Muhammad bin Idris bin Al-'Abbas bin 'Utsman bin Syafi'i Al-Hasyim
Al-Quraisy Al-Muthallibi (150-204H - 767-820M) Salah seorang imam empat.
Dilahirkan di Gaza (Palestina) dan meninggal di Cairo. Diantara karya
ilmiyahnya Al-Umm, Ar-Risalah dan Al-Musnad.
2. Abu
'Abdillah Miuhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah Al- Bukhari
(194-256H - 810-870M) Seorang Ulama ahli Hadits. Untuk mengumpulkan hadits ia
telah menempuh perjalanan yang panjang, mengunjungi Khurasan, Irak, Mesir dan
Syam. Kitab-kitab yang disusunnya antara lain Al-Jaami Ash-Shahih (yang lebih
dikenal dengan Shahih Bukhari), At-Taarikh, Adh-Dhu'afaa, Khalq Af'aal
al-Ibaad.
3. Al-Bukhari
dalam Shahih-nya, kitab Al-'ilm, bab.10
MENGENAL ALLAH, 'AZZA WA JALLA
Apabila anda ditanya : Siapakah Tuhanmu ? Maka katakanlah :
tuhanku adalah Allah, yang memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini
dengan segala ni'mat yang dikaruniakan-Nya. Dan dialah sembahanku, tiada
sesembahan yang haq selain Dia.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Artinya : Segala puji hanya milik Allah Tuhan
Pemelihara semesta alam". (Al-Faatihah : 1).
Semua yang ada selain Allah disebut Alam, dan aku adalah
salah satu dari semesta alam ini.
Selanjutnya jika anda ditanya : Melalui apa anda mengenal
Tuhan ? Maka hendaklah anda jawab : Melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan
melalui ciptaan-Nya. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah : malam, siang,
matahari dan bulan. Sedang di antara ciptaan-Nya ialah : tujuh langit dan tujuh
bumi beserta segala mahluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada di
antara keduanya.
Firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya
ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari
dan janganlah (pula kamu bersujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada
Allah yang menciptakannya jika kamu benar-benar hanya kepada-Nya
beribadah" (Fushshilat : 37).
Dan firman-Nya :
"Artinya : Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah
menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas
'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, senantiasa mengikutinya dengan cepat.
Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta bintang-bintang (semuanya)
tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah mencipta dan memerintah
itu. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam". (Al-A'raaf : 54).
Tuhan inilah yang haq disembah. Dalilnya, firman Allah
Ta'ala :
"Artinya : Wahai manusia ! Sembahlah Tuhanmu yang telah
menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa, (Tuhan)
yang telah menjadikan untukmu bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap,
serta menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu Dia menghasilkan
segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengangkat
sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui". (Al-Baqarah : 22).
Ibnu Katsir 1
Rahimahullah Ta'ala, mengatakan :"Hanya Pencipta segala sesuatu yang ada
inilah yang berhak disembah dengan segala macam ibadah".(Lihat Ibnu
Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, (Cairo, Maktabah Dar At-Turats, 1400H) jilid. 1 hal. 57.
Dan macam-macam ibadah yang diperintah Allah itu, antara
lain : Islam (Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji), Iman, Ihsan, Do'a,
Khauf (takut), Raja' (pengharapan), Tawakkal, Raghbah (penuh minat), Rahbah
(cemas), Khusyu' (tunduk), Khasyyah (takut), Inabah (kembali kepada Allah),
Isti'anah (memohon pertolongan), Isti'adzah (meminta perlindungan), Istighatsah
(meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), Dzabh
(penyembelihan) Nadzar dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan
olehAllah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Artinya : Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah
kepunyaan Allah, karena itu janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di
samping (menyembah) Allah". (Al-Jinn : 18).
Karena itu barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut
untuk selain Allah, maka dia adalah musyrik dan kafir. Firman Allah Ta'ala :
"Artinya : Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang
lain di samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya
tentang itu, maka benar-benar balasannya ada pada tuhannya. Sungguh tiada
beruntung orang-orang kafir itu". (Al-Mu'minuun :117).
Dalil-dalil macam Ibadah :
1. Dalil Do'a.
Firman Allah Ta'ala :
"Artinya : Dan Tuhanmu berfirman : Berdo'alah kamu
kepada-Ku niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang
enggan untuk beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan
hina-dina". (Ghaafir : 60).
Dan diriwayatkan dalam hadits :
"Artinya : Do'a itu adalah sari ibadah". ( Hadits
Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami' Ash-Shahiih, kitab Ad-Da'waat, bab 1.
"Maksud hadits ini adalah bahwa segala macam ibadah, baik yang umum maupun
yang khusus, yang dilakukan seorang mu'min, seperti mencari nafkah yang halal
untuk keluarga, menyantuni anak yatim dll, semestinya diiringi dengan
permohonan ridha Allah dan pengharapan balasan ukhrawi. Oleh karena itu Do'a
(permohonan dan pengharapan tersebut) disebut oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam sebagai sari atau otak ibadah, karena senantiasa harus
mengiringi gerak ibadah").
2. Dalil Khauf
(takut).
Firman Allah Ta'ala :
"Artinya : Maka janganlah kamu takut kepada mereka,
tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman". (Ali
'imran : 175).
3. Dalil Raja'
(pengharapan).
Firman AllahTa'ala.
"Artinya : Untuk itu barangsiapa yang mengharap
perjumpaan dengan Tuhanya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan
janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya".
(Al-Kahfi : 110).
4. Dalil Tawakkal
(berserah diri).
Firman Allah Ta'ala :
"Artinya : Dan hanya kepada Allah-lah supaya kamu
bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (Al-Maa'idah :
23).
"Artinya : Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada
Allah, maka Dia-lah yang akan mencukupinya". (Ath-Thalaaq : 3).
5. Dalil Raghbah
(penuh minat), Rahbah (cemas) dan Khusyu' (tunduk).
Firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Sesungguhnya mereka itu senantiasa
berlomba-lomba dalam (mengerjakan) kebaikan-kebaikan serta mereka berdo'a
kepada Kami dengan penuh minat (kepada rahmat Kami) dan cemas (akan siksa
Kami), sedang mereka itu selalu tunduk hanya kepada Kami". (Al-Anbiyaa :
90).
6. Dalil Khasy-yah
(takut).
Firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Maka janganlah kamu takut kepada mereka,
tetapi takutlah kepada-Ku". (Al-Baqarah : 150).
7. Dalil Inabah
(kembali kepada Allah).
Firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu serta
berserah dirilah kepada-Nya (dengan mentaati perintah-Nya), sebelum datang
adzab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat tertolong (lagi)". (Az-Zumar :
54).
8. Dalil Isti'anah
(memohon pertolongan).
Firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan
hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan". (Al-Faatihah : 4).
Dan diriwayatkan dalam hadits.
"Artinya : Apabila kamu memohon pertolongan, maka
memohonlah pertolongan kepada Allah". (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam
Al-Jaami' 'Ash-Shahiih, kitab Shifaat Al-Qiyaamah wa Ar-Raqa'iq wa Al-Wara :
bab 59 dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad. Beirut Al-maktab Al-Islami 1403H
jilid 1 hal. 293, 303, 307).
9. Dalil Isti'adzah
(meminta perlindungan).
Firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Katakanlah Aku berlindung kepada Tuhan yang
Menguasai subuh". (Al-Falaq : 1).
Dan firman-Nya :
"Artinya : Katakanlah Aku berlindung kepada Tuhan
manusia. Penguasa manusia". (An-Naas : 1-2).
10. Dalil
Istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan).
Firman Allah Ta'ala.
"Artinya : (Ingatlah) tatkala kamu meminta pertolongan
kepada Tuhanmu untuk dimenangkan (atas kaum musyrikin), lalu diperkenankan-Nya
bagimu". (Al-Anfaal : 9).
11. Dalil Dzabh
(penyembelihan).
Firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Katakanlah. Sesungguhnya shalatkku,
penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam,
tiada sesuatu-pun sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan
aku adalah orang yang pertama kali berserah diri (kepada-Nya)". (Al-An'am
: 162-163).
Dalil dari Sunnah.
"Artinya : Allah melaknat orang yang menyembelih
(binatang) bukan karena Allah". (Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya,
kitab Al-Adhaahi, bab 8 dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 1, hal.
108, 118 dan 152)
12. Dalil Nadzar.
Firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Mereka menunaikan nadzar dan takut akan
suatu hari yang siksanya merata di mana-mana". (Al-Insaan : 7).
Fote Note.
1. Abu
Al-Fidaa : Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasy Ad-Dimasyqi (701-774H -
1302-1373M). Seorang ahli ilmu hadits, tafsir, fiqh dan sejarah. Diantara
karyanya : Tafsir Al-Qur'aan Al-Azhim, Thabaqat Al-Fuqahaa Asy Syafiiyyun,
Al-Bidayah wa An-Nihayah (sejarah), Ikhtishaar 'Uluum Al-Hadits, Syarh Shahih
Al-Bukhari (belum sempat dirampungkannya).
MENGENAL ISLAM
Islam, ialah berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan
tunduk kepada-Nya dengan penuh kepatuhan
akan segala perintah-Nya serta menyelamatkan diri dari perbuatan syirik dan
orang-orang yang berbuat syirik.
Dan agama Islam, dalam pengertian tersebut, mempunyai tiga
tingkatan, yaitu : Islam, Iman dan Ihsan, masing-masing tingkatan mempunyai
rukun-rukunnya.
I. Tingkatan Islam
Adapun tingkatan Islam, rukunnya ada lima :
1. Syahadat
(pengakuan dengan hati dan lisan) bahwa "Laa Ilaaha Ilallaah" (Tiada
sesembahan yang haq selain Allah) dan Muhammad adalah Rasulullah.
2. Mendirikan
shalat.
3. Mengeluarkan
zakat.
4. Shiyam
pada bulan Ramadhan.
5. dan
Haji ke Baitullah Al-Haram.
1. Dalil Syahadat.
Firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Allah menyatakan bahwa tiada sesembahan (yang
haq) selain Dia, dengan senantiasa menegakkan keadilan (Juga menyatakan
demikian itu) para malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tiada sesembahan
(yang haq) selain Dia. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (Al-Imraan
: 18).
"Laa Ilaaha Ilallaah"' artinya : Tiada sesembahan
yang haq selain Allah.
Syahadat ini mengandung dua unsur : menolak dan menetapkan.
"Laa Ilaaha", adalah menolak segala sembahan selain Allah.
"Illallaah" adalah menetapkan bahwa penyembahan itu hanya untuk Allah
semata-mata, tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu didalam
penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan
sekutu di dalam kekuasaan-Nya.
Tafsiran syahadat tersebut diperjelas oleh firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
"Artinya : Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada
bapaknya dan kepada kaumnya : 'Sesungguhnya aku menyatakan lepas dari segala
yang kamu sembah, kecuali Tuhan yang telah menciptakan-ku, karena sesungguhnya
Dia akan menunjuki'. Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang
kekal pada keturunannya supaya mereka senantiasa kembali (kepada tauhid)".
(Az-Zukhruf : 26-28).
"Artinya : Katakanlah (Muhammad) : 'Hai ahli kitab !
Marilah kamu kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan
kamu, yaitu ; hendaklah kita tidak menyembah selain Allah dan tidak
mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya serta janganlah sebagian kita
menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling
maka katakanlah kepada mereka :'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang
muslim (menyerahkan diri kepada Allah)". (Ali 'Imran : 64).
Adapun dalil syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah.
Firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul
dari kalangan kamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat
menginginkan (keimanan dan keselamatan) untukmu, amat belas kasihan lagi
penyayang kepada orang-orang yang beriman". (Alt-Taubah : 128).
Syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah, berarti :
mentaati apa yang diperintahkannya, membenarkan apa yang diberitakannya,
menjauhi apa yang dilarang serta dicegahnya, dan menyembah Allah hanya dengan
cara yang disyariatkannya.
2. Dalil Shalat dan
Zakat serta tafsiran Tauhid.
Firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Padahal mereka tidaklah diperintahkan
kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya
lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan Shalat serta mengeluarkan
Zakat. Demikian itulah tuntunan agama yang lurus". (Al-Bayyinah : 5).
3. Dalil Shiyam
Firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan
kepada kamu untuk melakukan shiyam, sebagaimana telah diwajibkan kepada
orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa". (Al-Baqarah : 183).
4. Dalil Haji.
Firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Dan hanya untuk Allah, wajib bagi manusia
melakukan haji, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke
Baitullah. Dan barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya
Allah Maha tidak memerlukan semsesta alam". (Al 'Imran : 97).
II. Tingkatan Iman.
Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling
tinggi ialah syahadat "Laa Ilaaha Ilallaah", sedang cabang yang
paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu adalah
salah satu dari cabang Iman.
Rukun Iman ada enam, yaitu :
1. Iman
kepada Allah.
2. Iman
kepada para Malaikat-Nya.
3. Iman
kepada Kitab-kitab-Nya.
4. Iman
kepada para Rasul-Nya.
5. Iman
kepada hari Akhirat, dan
6. Iman
kepada Qadar, yang baik dan yang buruk. (Qadar : takdir, ketentuan Ilahi. Yaitu
: Iman bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam semesta ini adalah diketahui,
dikehendaki dan dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala).
Dalil keenam rukun ini, firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Berbakti (dari Iman) itu bukanlah sekedar menghadapkan
wajahmu (dalam shalat) ke arah Timur dan Barat, tetapi berbakti (dan Iman) yang
sebenarnya ialah iman seseorang kepada Allah, hari Akhirat, para Malaikat,
Kitab-kitab dan Nabi-nabi...".(Al-Baqarah : 177).
Dan firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Sesungguhnya segala sesuatu telah Kami
ciptakan sesuai dengan qadar". (Al-Qomar : 49).
III. Tingkatan Ihsan.
Ihsan, rukunnya hanya satu, yaitu :
"Artinya : Beribadah kepada Allah dalam keadaan
seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya
Dia melihatmu". (Pengertian Ihsan tersebut adalah penggalan dari hadits
Jibril, yang dituturkan oleh Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu 'Anhu,
sebagaimana akan disebutkan).
Dalilnya, firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang
bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan". (An-Nahl : 128).
Dan firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Dan bertakwallah kepada (Allah) Yang Maha
Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk shalat)
dan (melihat) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.
Sesunnguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
(Asy-Syu'araa : 217-220).
Serta firman-Nya.
"Artinya : Dalam keadaan apapun kamu berada, dan (ayat)
apapun dari Al-Qur'an yang kamu baca, serta pekerjaan apa saja yang kamu
kerjakan, tidak lain kami adalah menjadi saksi atasmu diwaktu kamu
melakukannya". (Yunus : 61).
Adapun dalilnya dari Sunnah, ialah hadits Jibril1 yang masyhur, yang diriwayatkan dari 'Umar bin
Al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu.
"Artinya : Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba muncul ke arah kami seorang laki-laki,
sangat putih pakaiannya, hitam pekat rambutnya, tidak tampak pada tubuhnya
tanda-tanda sehabis dari bepergian jauh dan tiada seorangpun di antara kami
yang mengenalnya. Lalu orang itu duduk di hadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam, dengan menyandarkan kelututnya pada kedua lutut beliau serta meletakkan
kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau, dan berkata : 'Ya Muhammad,
beritahulah aku tentang Islam', maka beliau menjawab :'Yaitu : bersyahadat
bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah serta Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan
shalat, mengeluarkan zakat, melakukan shiyam pada bulan Ramadhan dan melaksanakan
haji ke Baitullah jika kamu mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana'. Lelaki
itu pun berkata : 'Benarlah engkau'. Kata Umar :'Kami merasa heran kepadanya,
ia bertanya kepada beliau, tetapi juga membenarkan beliau. Lalu ia berkata :
'Beritahulah aku tenatng Iman'. Beliau menjawab :'Yaitu : Beriman kepada Allah,
para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari Akhirat, serta
beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk'. Ia pun berkata : 'Benarlah
engkau'. Kemudian ia berkata : 'Beritahullah aku tentang Ihsan'. Beliau
menjawab : Yaitu : Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu
melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu'. Ia
berkata lagi. Beritahulah aku tentang hari Kiamat. Beliau menjawab : 'Orang
yang ditanya tentang hal tersebut tidak lebih tahu dari pada orang yang
bertanya'. AKhirnya ia berkata :'Beritahulah aku sebagian dari tanda-tanda
Kiamat itu'. Beliau menjawab : Yaitu : 'Apabila ada hamba sahaya wanita
melahirkan tuannya dan apabila kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, tak
berpakaian sempurna melarat lagi, pengembala domba saling membangga-banggakan
diri dalam membangun bangunan yang tinggi'. Kata Umar : Lalu pergilah orang
laki-laki itu, semantara kami berdiam diri saja dalam waktu yang lama, sehingga
Nabi bertanya : Hai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ? Aku
menjawab : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau pun bersabda : 'Dia
adalah Jibril, telah datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian".
(Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al-Iman, bab 1, hadits ke 1. Dan
diriwayatkan juga hadits dengan lafadz seperti ini dari Abu Hurairah oleh
Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al-Iman, bab 37, hadits ke 1.)
Fote Note.
1. Disebut
hadits jibril, karena jibril-lah yang datang kepada Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, dengan menanyakan kepada beliau tentang, Islam, Iman dan
masalah hari Kiamat. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan pelajaran kepada kaum
muslimin tentang masalah-masaalah agama.
MENGENAL NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
Beliau adalah Muhammad bin 'Abdullah, bin 'Abdul Muthallib,
bin Hasyim. Hasyim adalah termasuk suku Quraisy, suku Quraisy termasuk bangsa
Arab, sedang bangsa Arab adalah termasuk keturunan Nabi Isma'il, putera Nabi
Ibrahim Al-Khalil. Semoga Allah melimpahkan kepadanya dan kepada Nabi kita
sebaik-baik shalawat dan salam.
Beliau berumur 63 tahun, diantaranya 40 tahun sebelum beliau
menjadi nabi dan 23 tahun sebagai nabi
dan rasul.
Beliau diangkat sebagai nabi dengan "Iqra" yakni
surah Al-'Alaq : 1-5, dan diangkat sebagai rasul dengan surah Al-Mudatstsir.
Tempat asal beliau adalah Makkah.
Beliau diutus Allah untuk menyampaikan peringatan menjauhi
syirik dan mengajak kepada tauhid. Dalilnya, firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Wahai orang yang berselimut ! Bangunlah,
lalu sampaikanlah peringatan. Agungkanlah Tuhanmu. Sucikalah pakaianmu.
Tinggalkanlah berhala-berhala itu. Dan janganlah kamu memberi, sedang kamu
menginginkan balasan yang lebih banyak. Serta bersabarlah untuk memenuhi
perintah Tuhanmu". (Al-Mudatstsir : 1-7).
Pengertian :
l ·"Sampaikanlah peringatan",
ialah menyampaikan peringatan menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid.
l ·"Agungkanlah Tuhanmu".
Agungkanlah Ia dengan berserah diri dan beribadah kepada-Nya semata-mata.
l ·"Sucikanlah pakaianmu",
maksudnya ; Sucikanlah segala amalmu dari perbuatan syirik.
l ·"Tinggalkanlah berhala-berhala
itu", artinya : Jauhkan dan bebaskan dirimu darinya serta orang-orang yang
memujanya.
Beliaupun melaksanakan perintah ini dengan tekun dan gigih
selama sepuluh tahun, mengajak kepada tauhid. Setelah sepuluh tahun itu beliau
di mi'rajkan (diangkat naik) ke atas langit dan disyari'atkan kepada beliau
shalat lima waktu. Beliau melakukan shalat di Makkah selama tiga tahun.
Kemudian, sesudah itu, beliau diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah.
Hijrah, pengertiannya, ialah : Pindah dari lingkungan syirik
ke lingkungan Islami.
Hijrah ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan umat
Islam. Dan kewajiban tersebut hukumnya tetap berlaku sampai hari kiamat. Dalil
yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu firman Allah Ta'ala.
"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat
dalam keadaan zhalim terhadap diri mereka sendiri 1,
kepada mereka malaikat bertanya :'Dalam keadaan bagaimana kamu ini .? 'Mereka
menjawab : Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah). Para
malaikat berkata : 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah
(kemana saja) di bumi ini ?. Maka mereka itulah tempat tinggalnya neraka
Jahannam dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Akan tetapi
orang-orang yang tertindas di antara mereka, seperti kaum lelaki dan wanita
serta anak-anak yang mereka itu dalam keadaan tidak mampu menyelamatkan diri
dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), maka mudah-mudahan Allah memaafkan
mereka. Dan Allah adalah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun". (An-Nisaa :
97-99).
Dan firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman !
Sesungguhnya, bumi-Ku adalah luas, maka hanya kepada-Ku saja supaya kamu
beribadah". (Al-Ankabuut : 56).
Al-Baghawai 2,
Rahimahullah, berkata :"Ayat ini, sebab turunnya, adalah ditujukan kepada
orang-orang muslim yang masih berada di Makkah, yang mereka itu belum juga
berhijrah. Karena itu, Allah menyeru kepada mereka dengan sebutan orang-orang
yang beriman".
Adapun dalil dari Sunnah yang menunjukkan kewajiban hijrah,
yaitu sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Hijrah tetap akan berlangsung selama pintu
taubat belum ditutup, sedang pintu taubat tidak akan ditutup sebelum matahari
terbit dari barat". (Hadits Riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 4,
hal. 99. Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Al-Jihad, bab 2, dan Ad-Darimi dalam
Sunan-nya, kitab As-Sam, bab 70).
Setelah Nabi Muhammad menetap di Madinah, disyariatkan
kepada beliau zakat, puasa, haji, adzan, jihad, amar ma'ruf dan nahi mungkar,
serta syariat-syariat Islam lainnya.
Beliau-pun melaksanakan untuk menyampaikan hal ini dengan
tekun dan gigih selama sepuluh tahun. Sesudah itu wafatlah beliau, sedang
agamanya tetap dalam keadaan lestari.
Inilah agama yang beliau bawa : Tiada suatu kebaikan yang
tidak beliau tunjukkan kepada umatnya dan tiada suatu keburukan yang tidak
beliau peringatkan kepada umatnya supaya di jauhi. Kebaikan yang beliau
tunjukkan ialah tauhid serta segala yang dicintai dan diridhai Allah, sedang
keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi ialah syirik serta segala yang
dibenci dan tidak disenangi Allah.
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, diutus oleh
Allah kepada seluruh umat manusia, dan diwajibkan kepada seluruh jin dan
manusia untuk mentaatinya. Allah Ta'ala berfirman.
"Artinya : Katakanlah. 'Wahai manusia sesungguhnya aku
adalah utusan Allah kepada kamu semua". (Al-Araaf : 158).
Dan melalui beliau, Allah telah menyempurnakan agama-Nya
untuk kita, firman Allah Ta'ala.
"..Pada hari ini 3,
telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan Aku lengkapkan kepadamu ni'mat-Ku
serta Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu". (Al-Maaidah : 3).
Adapun dalil yang menunjukkan bahwa beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam juga wafat, ialah firman Allah Ta'ala.
"Artinya :Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka-pun akan mati (pula).
Kemudian, sesungguhnya kamu nanti pada hari kiamat berbantah- bantahan di
hadapan Tuhanmu". (Az-Zumar : 30-31).
Manusia sesudah mati, mereka nanti akan dibangkitkan
kembali. Dalilnya firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Berasal dari tanahlah kamu telah Kami
jadikan dan kepadanya kamu Kami kembalikan serta darinya kamu akan Kami
bangkitkan sekali lagi" (Thaa-haa : 55).
Dan firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Dan Allah telah menumbuhkan kamu dari tanah
dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalamnya (lagi) dan
(pada hari Kiamat) Dia akan mengeluarkan kamu dengan sebenar-benarnya".
(Nuh : 17-18).
Setelah manusia dibangkitkan, mereka akan di hisab dan
diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka, firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Dan hanya kepunyaan Allah apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang
yang berbuat buruk sesuai dengan perbuatan mereka dan memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik dengan (pahala) yang lebih baik
(surga)".(An-Najm : 31).
Barangsiapa yang tidak mengimani kebangkitan ini, maka
dia adalah kafir, firman Allah Ta'ala.
"Artinya : (Kami telah mengutus) rasul-rasul menadi
penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan, supaya tiada lagi suatu alasan
bagi menusia membantah Allah sebelum (diutusnya), serta beliulah penutup para
nabi". (An-Nisaa : 165).
"Artinya : Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa
mereka tidak akan dibangkitkan. Katakan : 'Tidaklah demikian. Demi Tuhanku,
kamu pasti akan dibangkitkan dan niscaya akan diberitakan kepadamu apapun yang
telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah amat mudah bagi Allah".
(At-Tghaabun : 7).
Allah telah mengutus semua rasul sebagai penyampai kabar
gembira dan pemberi peringatan. Sebagaimana firman Allah Ta'ala.
"Artinya : (Kami telah mengutus) rasul-rasul menjadi
penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan supaya tiada lagi suatu alasan
bagi manusia membantah Allah setelah (diutusnya) para rasul itu .."
(An-Nisaa : 165).
Rasul pertama adalah Nabi Nuh 'Alaihissalam 4, Dan rasul terkahir adalah Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam, serta beliaulah penutup para nabi.
Dalil yang menunjukkan bahwa rasul pertama adalah Nabi
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, firman Allah Ta'ala.
"Artinya : Sesungguhnya Kami wahyukan kepadamu
(Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi
sesudahnya .." (An-Nisaa : 163).
Dan Allah telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul,
mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad, dengan memerintahkan mereka untuk
beribadat kepada Allah semata-mata dan melarang mereka beribadah kepada thagut.
Allah Ta'ala berfirman.
"Artinya : Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus kepada
setiap umat seorang rasul (untuk menyerukan) :'Beribadahlah kepada Allah (saja)
dan jauhilah thagut itu ..". (An-Nahl : 36).
Dengan demikian, Allah telah mewajibkan kepada seluruh
hamba-Nya supaya bersikap kafir terhadap thagut dan hanya beriman kepada-Nya.
Ibnu Al-Qayyim 5,
Rahimahullah Ta'ala, telah menjelaskan pengertian thagut tersebut dengan
mengatakan.
"Artinya : Thagut, ialah setiap yang diperlakukan
manusia secara melampui batas (yang telah ditentukan oleh Allah), seperti
dengan disembah, atau diikuti atau dipatuhi".
Dan thagut itu banyak macamnya, tokoh-tokohnya ada lima :
1. Iblis,
yang telah dilaknat oleh Allah.
2. Orang
yang disembah, sedang dia sendiri rela.
3. Orang
yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya.
4. Orang
yang mengaku tahu sesuatu yang ghaib, dan
5. Orang
yang memutuskan sesuatu tanpa berdasarkan hukum yang telah diturunkan oleh
Allah.
Allah Ta'ala berfirman.
"Artinya : Tiada paksaan dalam (memeluk) agama ini.
Sungguh telah jelas kebenaran dari kesesatan. Untuk itu, barangsiapa yang
ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka dia benar-benar telah
berpegang teguh dengan tali yang terkuat, yang tidak akan terputus tali itu. Dan
Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". (Al-Baqarah : 256).
Ingkar kepada semua thagut dan iman kepada Allah saja,
sebagaimana dinyatakan dalam ayat tadi, adalah hakekat syahadat "Laa
Ilaaha Ilallah".
Dan diriwayatkan dalam hadits, Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Pokok agama ini adalah Islam 6, dan tiangnya adalah shalat, sedang ujung
tulang punggungnya adalah jihad fi sabilillah". (Hadits Shahih riwayat
Ath-Thabarani dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, dan riwayat At-Tirmidzi dalam
Al-Jaami Ash-Shahih, kitab Al-Imaan, bab 8).
Hanya Allah-lah Yang Mahatau. Semoga shalawat dan salam
senantiasa dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad kepada keluarga dan para
sahabatnya.
Fote Note.
1. Yang
dimaksud dengan orang-orang yang zhalim terhadap diri mereka sendiri dalam ayat
ini, ialah orang-orang penduduk Makkah yang sudah masuk Islam tetapi mereka
tidak mau hijrah bersama Nabi, padahal mereka mampu dan sanggup. Mereka
ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir supaya ikut bersama mereka pergi ke
perang Badar, akhirnya ada diantara mereka yang terbunuh.
2. Abu
Muhammad Al-Husein bin Mas'ud bin Muhammad Al-Farra' atau Ibnu Al-Farra'. Al
Baghawi (436-510H - 1044-1117M). Seorang ahli dalam bidang fiqh, hadits dan
tafsir. Di antara karyanya : At-Tahdziib (fiqh), Syarh As-Sunnah (hadits),
Lubaab At-Ta'wiil fi Ma'aalim At-Tanziil (tafsir).
3. Maksudnya,
adalah hari Jum'at ketika wukuf di Arafah, pada waktu Haji Wada.
4. Selain
dalil dari Al-Qur'an yang disebutkan Penulis, yang menunjukkan bahwa Nabi Nuh
adalah rasul pertama, di sana juga ada hadits shahih yang menyatakan bahwa Nabi
Nuh adalah rasul pertama yang di utus kepada penduduk bumi ini, seperti hadits
riwayat Al-Bukhari dalam Shahih-nya kitab Al-Anbiya, bab 3 dan riwayat Muslim
dalam Shahih-nya kitab Al-Iman, bab. 84. Adapun Nabi Adam Alaihissalam, menurut
sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari, Radhiyallahu anhu.
Beliau adalah nabi pertama. Dan disebutkan dalam hadits ini bahwa jumlah para
nabi ada 124 ribu orang, dari jumlah tersebut sebagai rasul 315 orang, dan
dalam riwayat lain disebutkan 310 orang lebih. Lihat : Imam Ahmad, Al-Musnad,
jilid 5, hal. 178, 179 dan 265.
5. Abu
Abdillah : Muhammad bin Abu Bakar, bin Ayyub, bin Said, Az-Zur'i,Ad-Dimasqi,
terkenal dengan Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah (691-751H - 1292 - 1350M). Seorang
ulama yang giat dan gigih dalam mengajak umat Islam pada zamannya untuk kembali
kepada tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah serta mengikuti jejak para Salaf Shalih.
Mempunyai banyak karya tulsi, antara lain : Madaarij As-Salikin, Zaad
Al-Ma'aad, Thariiq Al-Hijratain wa Baab As-Sa'aadatain, At-Tibyaan fi Aqwaam
Al-Qur'aan, Miftah Daar As-Sa'aadah.
6. Silahkan
melihat kembali pengertian Islam yang disebutkan oleh Penulis, dalam Tiga
Landasan Utama bagian 3/4
Label:
islam,
tiga landasan utama


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)

.jpg)

.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)




